Showing posts with label Dusun Miyono. Show all posts
Showing posts with label Dusun Miyono. Show all posts

Wednesday, May 8, 2013

SEJARAH SINGKAT KI GEDE MIYONO (KI AGENG DHARMOYONO SURGI)

PENINGGALANNYA BERUPA BENDA-BENDA KUNO YANG DITEMUKAN  DI MIYONO, DUKUH MBULLOH, DESA/ KECAMATAN KAYEN, KABUPATEN PATI

Ki Ageng Dharmoyono (Ki Gede Miyono) adalah seorang pendatang, dari Tuban Jawa Timur, datang ke Miyono, pada waktu itu disebut Desa Tohyaning. Beliau merupakan cucu dari R. Ahmad Sahur Bupati Wilotikto Tuban, dan ibunya Dewi Sari (Sarifah) adik kandung Raden Sahid (Sunan Kalijaga). Ayah Ki Ageng Dharmoyono adalah bernama Empu Supo (Supo Madu Rangin), Kakeknya bernama Empu Supondriyo (Dharmokusumo) bin Maulana Ainul Yaqin (Sunan Giri).

Ki Ageng Dharmoyono sengaja pergi mengembara misi dakwah meninggalkan indahnya kehidupan dalam keraton dan meninggalkan pangkat, jabatan di pemerintahan Tuban, masuk kedunia sufi/Tasawuf.

Sebelum kedatangan Ki Ageng Dharmoyono, Tohyaning merupakan sebuah tempat yang diyakini masyarakat setempat menjadi pusat penyebaran agama Hindu, sekaligus pusat Pemerintahan sebuah kerajaan yang ada hubungannya dengan cerita rakyat Babad Tanah Jawa. Hal ini di buktikan dengan adanya temuan-temuan yang masih disimpan pengurus, diantaranya :

Beberapa Gares yang mirip lencana prajurit yang bertanda huruf C III, beberapa Arca, 1 Arca dari batu putih yang berbentuk seperti Dewi Durga, yang oleh Prambanan merupakan pujaan orang Hindu dibuat sekitar abad 8 – 13 Masehi, juga ditemukan bekas bangunan yang sekarang masih dibawah tanah, yang tersusun dari bata merah berukuran panjang 40 cm, lebar 20 cm, tebal 10 cm yang disusun rapi tanpa perekat (hanya pakai tanah liat).

Juga ditemukan peralatan makan dan minum, juga timbangan Emas, yang semuannya terbuat dari logam towo dan keramik bergambar warna biru.

Ki Ageng Dharmoyono datang di Desa Tohyaning (Telaga air jernih) atau Miyono sekitar abad ke 14 Masehi. Beliau datang ke Desa Miyono dengan tujuan dakwah menyebarkan Agama Islam dengan cara kejawen (Tatanan orang Jawa). Dan atas pertolongan Allah SWT. Disertai usaha yang gigih, Ki Ageng Dharmoyono berhasil merubah agama penduduk Miyono yang semula Hindu menjadi Islam, lama-kelamaan nama Miyono berubah menjadi Ki Anut (penduduk Miyono anut). Ki Ageng Dharmoyono terkenal dengan sesebutan Mbah Anut (sesepuh yang di anut/di ikuti). Beliau juga terkenal Ki Miyono/Ki Yono (Kyai Sakti yang mukim di Miyono).

Ki Ageng Dharmoyono (Ki Gede Miyono) ini merupakan seorang Waliyulloh yang punya kelebihan ilmu dan kepandaian, pendiam, kaya dan dermawan, dalam hal ini menurut pendapat Hadrotus Syeh Habib Muhammad Lutfi bin Ali Yahya Pekalongan, beliau memberi amanat kepada kami (Pengurus Makam, Tokoh Masyarakat & Tokoh Agama Desa Kayen) untuk mendirikan Masjid bernama “MASJID PEPUNDEN MIYONO” di sekitar lokasi Makam Ki Ageng Dharmoyono. Temu Silaturrahim pada hari Rabu Kliwon, 12 Mei 2010 / 26 Jumadilawal 1431 H.

Dalam perjuangan menyebarkan Agama Islam di Miyono Desa/ Kecamatan Kayen Pati Selatan dan sekitarnya , Ki Ageng Dharmoyono bersama 3 saudara/adiknya :

1. Ki Ageng Dharmoyoso Breganjing (Mbah Hyang Dharmoyoso Surgi Breganjing / Empu Breganjing Cengkalsewu)

Merupakan cikal bakal Desa Cengkalsewu (Empu Dharmoyoso mendapatkan hadiah tanah seribu jengkal dari Kerajaan Mataram yang akhirnya terkenal dengan sebutan Desa Cengkalsewu). Makam Ki Ageng Dharmoyoso berada di Dukuh Dermoyo Desa Cengkalsewu Kecamatan Sukolilo Kab. Pati sekitar 5 Km dari Makam Ki Ageng Dharmoyono Surgi ke arah barat. Adapun Makam Ki Ageng Dharmoyoso Breganjing mulai pugar pada Tahun 1924 oleh Datuk Kusumo / H. Abdul syukur yang menjabat Petinggi (Kepala Desa) Sumbersari Kayen selama 45 tahun pada masa penjajahan Belanda sampai Indonesia Merdeka. Makam ini sering dikunjungi oleh Almaghfurlah Mbah Ahmad Shobib, salah seorang tokoh Ulama Sepuh dari Jepara 1987 – 1995. Adapun Makam Mbah Hyang Dharmoyoso hingga sekarang masih banyak dikunjungi para peziarah baik para Habaib, Ulama, Kyai, Santri, Para Pejabat dan Masyarakat umum dari wilayah Kab Pati, Kudus, Jepara, Grobogan bahkan sampai ada yg datang dari Pulau Kalimantan, Sumatra, dll.

Juru Kunci Makam Mbah Hyang Dharmoyoso Surgi Breganjing yang pertama adalah :
  • Mbah Raminah istri Mbah Sariban (H. Abdul Khodir) Tahun 1924 – 1964 M, dilanjutkan,
  • Putrannya sebagai juru kunci kedua yaitu H. Thohari Amin Thohir tahun 1964-1992M.(dimasa hidupnya adalah PNS di Lingkungan DEPAG sebagai Ketib/Penghulu KUA &juga pernah menjabat sebagai Kepala Desa Cengkalsewu).
  • Dilanjutkan Istrinya Juru Kunci ketiga Bu Sri Thohari dan setelah tua terkenal dengan panggilan Mbahji Maysaroh ( Hj. Sutinah Sri Suyatmi AT). Tahun 1992 sampai sekarang tahun 2011.
Adapun sekitar makam Ki Ageng Dharmoyoso Breganjing / Empu Breganjing Cengkalsewu masih banyak diketemukan tai besi (bekas pande besi).
Sedangkan Haul Mbah Hyang Dharmoyoso Surgi Breganjing diperingati setiap tanggal 15 – 16 Bakdomulud/Rabiulakhir Tahun Hijriah. Demikian sekilas sejarah Ki Ageng Dharmoyoso Breganjing.

2. Nyai Sombro (Nyai Branjung), dan

3. Joko Suro (Empu Suro). Makamnya di Kadilangu Demak berdekatan dengan ayahnya Empu Supo yaitu sebelah kanan sebelum masuk Gapuro Makam R. Sahid Kanjeng Sunan Kalijaga.

Ketiga adik kandung Ki Ageng Dharmoyono Surgi yakni : Ki Ageng Dharmoyoso Breganjing, Nyai Sumbro, Joko Suro (Empu Suro) ketiganya merupakan ahli dalam pembuatan pusaka/Gaman mereka benar-benar mewarisi keahlian pembuatan keris (pusaka) dari Ayahnya Empu Supo dan juga kakeknya Empu Supo Mbungkul. Membuat pusaka/keris dengan cara dipijit-pijit dengan jari dan dijilati dengan lidah.

Peninggalan dan Jasa-jasa beliau adalah :
  1. Menyebarkan Tauhid Ketuhanan, menyebarkan aqidah Islam tanpa meninggalkan ajaran kejawen sebagai penghormatan antara lain tingkep, Sedekah Orang Meninggal, Bakar kemenyan dsb.
  2. Wejangan Ki Ageng Dharmoyono Surgi Miyono yang sangat terkenal yaitu “Keluar masuknya nafas ingat Allah” yang orang jawa dulu menyebut MBULLOH yang artinya “Mlebu Metune Nafas Eling Allah” sampai sekarang dijadikan nama pedukuhan yakni Dukuh Mbulloh.
  3. Bersama dengan adik-adiknya membuat pusaka/gaman yang bisa dimanfaatkan oleh penduduk sekitar yaitu sabit suro, paku suro, lanjam suro, dll.
  4. Beliau mennuah (menjadikan pusaka-pusaka) mempunyai kekuatan ghaib, yang diyakini warga bisa untuk sarana menolak hama, keselamatan dan sebagai piandel/kesaktian dll.
  5. Dari berbagai sumber, Ki Ageng Dharmoyono Surgi/Ki Gede Miyono adalah paman Saridin yang mengasuh/momong Saridin semasa kecil hingga dewasa disebut Syeh Jangkung yang terkenal kesaktiannya dengan Lulang Kebo Landoh. Makamnya ada di Dukuh Landoh Desa Kayen 2 km arah barat dari Makam Jati Kembar sebutan Makam Mbah Hyang Dharmoyono Surgi Miyono. Saridin/Syeh Jangkung anaknya Sunan Muria (R. Umar Said) Cucunya Sunan Kalijaga (R.Sahid). Sedangkan Raden Sahid adalah saudaranya Dewi Sari (Sarifah) ibunya Ki Ageng Dharmoyono, Empu Breganjing, Empu Sumbro dan Empu Suro. Sebagaimana Silsilah terlampir.
  6. Terbukti banyak gupaan kerbau dan tempat pengembalaan kerbau di sekitar Makam Ki Ageng Dharmoyono Surgi (Makam Jati Kembar).

Makam Ki Ageng Dharmoyono (Ki Gede Miyono)mulai diperingati/Haul Tahun 1970 oleh : Mbah Hasan dan Bapak suwadi  atas perintah Mbah Zaid Terban Kudus. Juru kunci Makam Ki Ageng Dharmoyono (Ki Gede Miyono) yang pertama Mbah Sulaiman (Modin) wafat Tahun 1943, diteruskan Mbah Suprawiro Japan wafat Tahun 1976, dilanjutkan Mbah Sukardi dibantu Mbah Samat sampai sekarang.

Adapun Pengurus Makam Ki Ageng Dharmoyono (Ki Gede Miyono)Mbulloh Kayen Kabupaten Pati Yakni : Bp. Subono Kepala Desa sebagai Pelindung, Penasehat : Bp. Suwadi & Bp. K. Ali Ahmadi, Juru Kunci : Mbah Sukardi dibantu Mbah Samat, Ketua : Bp. Nur Rohmat & Bp. Darlan, Sekretaris : Bp. Ahmad Rodli & Bp. Supriyono, Bendahara : Bp. Bayan Yoto dan Bp. Ridwan dan Seksi Pembangunan : Bp. Kenang & Bp. Sukardi, Seksi Usaha : Semua Ketua RT dan RW Dukuh Mbulloh Desa Kayen.

Sebagai pelurusan sejarah dalam cerita seni budaya ketoprak Syeh Jangkung (Saridin) diasuh Ki Ageng Kiringan itu kurang benar. Sebab Ki Ageng Kiringan itu hidup pada masa Pakubuwono II + 1700, padahal Syeh Jangkung (Saridin) wafat tahun 1563 tepatnya tanggal 15 Rajab.

Demikian yang dapat penulis uraikan terkait sejarah Ki Gede Miyono (Ki Ageng Dharmoyono Surgi) dan Saudara-saudaranya, kebenarannya penulis serahkan pada Allah SWT. Yang Maha Tahu.

Nara sumber :
  1. Hadrotus Syeh Habib Muhammad Lutfi bin Ali Yahya Pekalongan;
  2. R. KH. Ridwan Aziz Al Hafidz (Pengasuh Pondok Pesantren Darul Muqoddas & Penasehat Kraton Surakarta) dari Mbanger, Mojomulyo, Tambakromo Pati berdasarkan Kitab Syamsuddhahiroh Sayid Abdur Rohman;
  3. KH. Nur Rohmat (Pengasuh Pondok Pesantren Al Isti’anah & Penasehat Pengurus Makam Mbah Syeh Jangkung Landoh Kayen) dari Plangitan Pati;
  4. Penelitian dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP-3 ) Jawa Tengah di Prambanan 26 Agustus 2010 oleh Bp. Bagus Sujianto,SS;
  5. Babat Landoh jilid II;
  6. Cerita Rakyat turun-temurun;
  7. Peta Lama Desa Kayen (gambar Repetisi/letak tanah)
  8. Penelitian dari TIM Balai Arkeologi Yogyakarta (Rabu, 04 Mei 2011 : Kepala Bpk. Drs. Siswanto, Dra.TM. Rita Istari, Hery Priswanto,SS, Agni Sesaria,M.SS, Ferry Bagus).


Penulis : Nor Rohmani Anshori
(PNS PD Pontren pada Kantor Kementerian Agama Kab. Pati, Pengurus Hondodento Yogyakarta Cabang Pati, Pengurus Benda Cagar Budaya “MAKAM PRAGOLA PATI” Sani, Tamansari Tlogowungu Pati, & Pengurus Makam Ki Ageng Dharmoyoso Breganjing / Empu Breganjing Dk. Dermoyo Cengkalsewu Sukolilo Pati)

Sunday, October 14, 2012

Candi Kayen Sumbang Teknologi Arsitektur Bata

Temuan kaki candi Hindu abad IX dan X di Dukuh Buloh, Desa Kayen, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, menyumbang ilmu arsitektur tentang bangunan bata kuno. Temuan itu sekaligus menambah referensi tentang sejarah penyebaran agama Hindu kuno di kawasan pesisir pantai utara.

Ketua Tim Penelitian Candi Kayen Balai Arkeologi Yogyakarta TM Rita Istari menyatakan hal itu di Pati, Jumat (20/7/2012). Bersama Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah, tim meneliti dan mengekskavasi temuan itu pada 14-22 Juli. Sebagian kaki candi itu ditemukan pada 1979 oleh penduduk setempat. Baru pada 2011, Balai Arkeologi Yogyakarta mulai meneliti dan mengeksvakasi. Di lokasi itu pula ditemukan arca Siwa Mahakala dari batu putih, kemuncak candi, darpana atau bingkai cermin dari perunggu, dan antefiks atau hiasan candi.

Rita mengatakan, berdasarkan temuan kaki candi, candi dibuat dengan cara menyusun batu bata. Dua teknik menyusun yang dipakai adalah teknik "gosod" dan "takik". Teknik "gosod" merupakan cara menempelkan bata dengan menggesek-gesekkan dua batu bata setengah basah. Batu bata itu akan mengeluarkan lumpur bata yang setelah kering bisa merekat.

"Adapun teknik 'takik' merupakan cara menyambung atau memasang dua sisi bata mirip puzzle. Di satu sisi ada bagian yang menonjol dan di sisi lain ada bagian untuk memasukkan sisi yang menonjol itu," kata Rita.

Menurut Rita, batu bata yang digunakan cukup besar, yaitu panjang 39 sentimeter, lebar 25 sentimeter, dan tebal 10-11 sentimeter. Melihat bentuk bata yang simetris, kemungkinan batu bata itu dicetak menggunakan cetakan kayu.

Bangunan candi batu bata itu juga memperkaya sejarah penyebaran agama Hindu di pesisir Jawa Tengah. Selama ini, mayoritas candi Hindu terdapat di dataran tinggi karena Hinduisme menghormati gunung. "Kami juga memperkirakan lokasi temuan itu adalah desa Hindu kuno. Istilah-istilah kuno masih dikenal masyarakat setempat, seperti toyaning atau sumber air, batanan atau kawasan candi bata, dan momahan atau pasar. Namun, hal itu masih perlu dibuktikan dengan penelitian lanjutan," kata Rita.

Warga setempat sekaligus penemu candi, Nur Rochmat (37), berharap Pemerintah Kabupaten Pati mengembangkan lokasi itu sebagai tujuan wisata. Warga telah meminta agar temuan kaki atau dasar candi itu dibuka, tidak ditutup tanah lagi. "Pembukaan lokasi candi sebagai tempat wisata dapat menambah pemasukan masyarakat sekitar dengan membuka warung-warung," kata dia.

Sumber : kompas.com

Candi Kayen Diperkirakan Lebih Tua dari Candi Borobudur

Tim arkeologi dari Balai Arkeologi Yogyakarta menemukan benda cagar budaya yang berusia lebih tua dari Candi Borobudur. Dua bangunan berupa candi itu ditemukan di Desa Kayen, Kecamatan Kayen, Pati, Jawa Tengah.

Penemuan candi berawal dari laporan warga yang menemukan batu bata berukuran besar di area persawahan Dusun Minoyo. Peneliti kemudian mendatangi dan meninjau lokasi temuan.

Mereka lalu menemukan beberapa benda cagar budaya seperti struktur batu bata yang masih tertata, arca, serta artefak dari logam, dan keramik.

Ketua Tim Peneliti, Rita Astari, memperkirakan candi dibuat pada abad ke 7 hingga 8. Perkiraan didapat dari struktur dan bahan bangunan. Diduga, candi berasal dari zaman Kerajaan Mataram Kuno.

Dengan kata lain, candi itu berusia lebih tua dari Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah. Candi Borobudur dibangun sekitar abad ke 8 dan proses pembangunannya rampung pada abad ke 9.

Hingga kini, peneliti baru menemukan dua bangunan candi. Peneliti memperkirakan masih akan menemukan candi-candi lain di Desa Kayen, Pati.

Sumber : metrotvnews.com

Thursday, March 8, 2012

Sisi Lain dan Sebab Candi Miyono Terbuat dari Batu Bata


Setelah warga Dusun Miyono (Mbuloh), Desa Kayen, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati, Jawa Tengah digegerkan dengan adanya penemuan candi pada sekitar bulan September lalu, kini penggalian dan penelitian oleh BALAR Yogyakarta dan BP3 Jawa Tengah mulai menemukan hasil. Namun diperkirakan penggalian dan penelitian masih memerlukan waktu yang cukup lama lagi dikarenakan adanya beberapa hambatan, yakni kurangnya sarana prasarana, lokasi yang sulit untuk dijangkau, serta keadaan cuaca yang kurang mendukung.
Candi yang penggaliannya belum selesai ini, menurut salah satu sesepuh setempat akan memakan lahan seluas kurang lebih dua hektar. Namun karena adanya beberapa hambatan, akhirnya penggalian pun dihentikan dan akan dilanjutkan kembali pada tahun 2012 mendatang. Sebelum ditindaklanjuti kembali penggalian dan penelitian Benda Cagar Budaya tersebut, rencananya akses jalan menuju lokasi candi akan diperbaiki. Namun masih menunggu dana dari pemerintah Kabupaten turun.
Pihak-pihak terkait ingin melakukan penindaklanjutan kembali karena diduga masih terdapat beberapa emas dan harta karun yang masih terpendam didalamnya. Setelah diketahui struktur batu bata pada bangunan candi, diduga bangunan candi tersebut dibangun pada masa Kerajaan Mataram Hindu pada abad ke-7 sampai 10. Namun belum diketahui pasti filoshopy tentang candi tersebut.
Pada umumnya candi terbuat dari batu, namun candi ini terbuat dari batu bata yang ukurannya tergolong besar, yakni tebal 8-10 cm, lebar 23-24 cm, dan panjang 39 cm. Menurut sesepuh setempat, candi ini terbuat dari batu bata karena pada masa itu, manusia sudah menyadari bahwa hakekatnya mereka terbuat dari tanah liat, maka mereka percaya akan kekokohan dan kekuatan dari sesuatu yang menjadi asal muasal mereka. Sebagai tanda kepercayaan tersebut kemudian mereka membangun candi dari tanah liat. Kalau dianalogikan hal tersebut tidak berbeda jauh dengan ajaran dalam Agama Islam tentang hakekat manusia.
Selain itu, candi tersebut juga menyimpan kesakralan. Hal ini terlihat pada beberapa bukti yang telah terjadi. Warga setempat menuturkan bahwa ada seorang remaja yang sedang mengunjungi candi tersebut, kemudian remaja tersebut membawa pulang salah satu potongan batubata dari candi tersebut. Selang beberapa hari kemudian remaja tersebut mengembalikan kembali batu bata tersebut karena rasa panas yang telah dirasakan setelah mengambil batu tersebut. Remaja tersebut mengaku mengambil salah satu potongan batu bata karena ia berniat untuk menjadikannya jimat.
Beberapa hari kemudian ada seorang gadis remaja yang sedang mengunjungi candi tersebut, setelah puas melihat-lihat lalu gadis tersebut beristirahat dan membeli jajanan di samping area candi. Disela-sela obrolan gadis tersebut dengan temannya telah terdengar sebuah kalimat “ternyata jelek ya candinya, aku kira bagus” oleh pedagang jajanan. Setelah mendengar perkataan seorang gadis tersebut kemudian pedagang menyuruh gadis tersebut untuk meminta maaf pada candi tersebut. Karena rasa takut yang menghantui, kemudian gadis tersebut pun meminta maaf pada candi.
Pedagang tersebut menyuruh gadis itu untuk minta maaf karena berkaca dari kejadian yang menimpa seorang remaja sebelumnya yang merasakan panas setelah mengambil salah satu batu bata dari candi. Ia  tidak mau hal yang sama menimpa pada gadis tersebut. Hal sakral lain yang terdapat pada candi tersebut yaitu sesuatu yang telah terjadi pada arca yang telah ditemukan pada penggalian, yaitu Arca Mahakala.
Karena takut akan pencurian terhadap arca, maka Arca Mahakala diamankan di rumah salah satu warga yang juga sebagai pejabat di desa tersebut. Sebagai tanda penghormatan, sang Arca diberi sebuah sesajen setiap harinya. Pada suatu hari warga lupa memberi sesajen pada arca tersebut. Alhasil sesuatu yang mengagetkan terjadi, airmata kemudian keluar dari kelopak mata arca. Warga yang menjaga sempat dikagetkan dengan adanya kejadian tersebut. Namun oleh sesepuh kemudian diberi pengertian untuk memberi sesajen rutin kepada arca tersebut sebagai penghormatan.
Hal tersebut memberi pelajaran kepada kita untuk selalu menghormati benda cagar budaya dan tidak berbuat senonoh pada lokasi peninggalan benda cagar budaya, karena rata-rata benda cagar budaya meninggalkan warisan mistis yang perlu kita lestarikan. Meski demikian kita tidak boleh terlalu takut akan adanya hal tersebut, karena pada dasarnya mereka (hal mistis) tidak akan mengganggu kita jika kita tidak mengganggu mereka. Dengan ditemukannya benda cagar budaya Candi Miyono di Dusun Miyono (Mbuloh), Desa Kayen, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati, jawa Tengah ini semakin memperkaya Negara Indonesia akan kebudayaan dan peninggalan sejarahnya yang nantinya akan menarik minat wisatawan, baik lokal maupun mancanegara.

Penulis : Muhammad Shofi'i

Sunday, March 4, 2012

Situs Candi Miyono

Berawal  dari hasil peninjauan yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Yogyakarta (BALAR Yogyakarta) pada tanggal 4 Mei 2011 di Dusun Miyono (Mbuloh), Desa Kayen, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati Jawa Tengah;  tim yang dipimpin oleh dra. TM. Rita Istari dengan anggota Hery Priswanto, SS. , Agni Sesaria Mochtar, SS.  dan Ferry Bagus  berhasil mengidentifikasikan beberapa temuan Benda Cagar Budaya (BCB) yaitu di antaranya struktur bata yang masih intact, arca  serta beberapa artefak dari logam dan keramik. Kedatangan tim Balai Arkeologi Yogyakarta ini atas laporan dari warga sekitar Situs Kayen yang di wakili oleh Nur Rohmad (Pengurus Makam Ki Gede Miyono) dan Subono (Kepala Desa Kayen) mengenai tindak lanjut mengenai keberadaan Situs Kayen.
Secara astronomis Situs Kayen terletak pada 1110 00’ 17,0” BT   060 54’ 31.8”  LS  berada di dataran alluvial yang cukup datar dan Pegunungan Kendeng di Selatannya. Kondisi lingkungan Situs Kayen cukup subur dengan didukung keberadaan Sungai Sombron  yang berhulu di Pegunungan kendeng dan bermuara di Sungai Tanjang.
Sebenarnya temuan di Situs Kayen ini sudah dijumpai pada bulan agustus 2010, ketika penduduk setempat berniat membangun mushola di sebelah barat makam Ki Gede Miyono menemukan bata-bata kuna yang berukuran besar. Pembangunan mushola ini bertujuan diperuntukkan tempat ibadah bagi para peziarah makam Ki Gede Miyono. Oleh penduduk setempat, beberapa bata kuna tersebut dimanfaatkan untuk membangun Makam Ki Gede Miyono. Menindaklanjuti temuan tersebut, pihak Disbudpora Kabupaten Pati  berkoordinasi dengan BP3 Jawa Tengah untuk mengidentifikasikan temuan tersebut.
Identifikasi temuan Benda Cagar Budaya  BALAR Yogyakarta yang telah dilakukan tidak jauh berbeda hasilnya dengan BP3 Jawa Tengah yaitu:

Monumen (bangunan)
Struktur berbahan bahan bata yang masih intact dan terpendam dalam tanah, beberapa temuan bata-bata kuna berukuran tebal 8 – 10 cm, lebar 23 – 24 cm, dan panjang 39 cm, serta komponen bagian dari candi seperti antefiks dan kemuncak di sekitar situs diduga merupakan bangunan candi.

Artefaktual

Berbahan bata : Wadah peripih, antefiks, kemuncak candi, bata candi berpelipit, bata bertulis
Berbahan batu putih : Arca Mahakala, Umpak, Kemuncak candi
Berbahan logam : Darpana (cermin berbentuk bundar atau lonjong dgn tangkai yang dipahat dengan bagus), Piring, Lampu gantung
Berbahan keramik : Mangkuk, Buli-buli, Piring, Cepuk bertutup






Berdasarkan hasil peninjauan Tim Balai Arkeologi Yogyakarta di Situs Kayen diperoleh kesimpulan bahwa temuan BCB di Situs Kayen mempunyai nilai arkeologi dan kesejarahan yang cukup tinggi dalam kaitan penyusunan historiografi di Indonesia, terutama temuan struktur bata yang diduga sebagai candi ini merupakan temuan baru karena berada di wilayah Pantai Utara Jawa (Pantura). Temuan candi berbahan bata sejenis banyak dijumpai di wilayah pedalaman Jawa seperti di poros Kedu – Prambanan dan Trowulan.

Sumber : ArkeologiJawa